Rabu, 29 Agustus 2018


WADI’AH DALAM FIQIH ISLAM

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Agama islam adalah agama yang sempurna, karena islam diturunkan oleh zat yang maha sempurna, tidak satupun urusan manusia kecuali islam telah mengaturnya. Allah ta’la berfirman:
ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ
Artinya: "pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu"( Al Maidah: 3).
            Dengan kesempurnaan dan paripurnanya islam maka agama ini telah mengatur segala urusan. Termasuk dalamnya urusan muamalah. Wadi’ah (penitipan barang atau uang) telah dikenal sejak lama sebelum islam. Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sebelum diutus menjadi Nabi dijuluki Al-Amin (dipercaya) dan Ash-Shadiq (orang yang jujur) maka dari itu banyak dari orang Mekah menitipkan barangnya kepada Rasulullah. Diriwyatkan dari ‘Aisyah Radiyallahu anha:
أن النبي صلى الله عليه وسلم كانت عنده ودائع لأهل مكة، فلما أراد الهجرة أودعها عند أم أيمن بركة الحبشية رضي الله عنها، وأمر عليا رضي الله عنه أن يتخلف عنه بمكة حتى يؤدي عن رسول الله صلى الله عليه وسلم الودائع التي كانت عنده للناس.
            Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ketika sebelum hijrah ke Madinah dititipi beberapa barang titipan. Ketika hendak hijrah ke Madinah beliau titipkan kepada Ummu Aiman Radhiyallahu Anha dan memerintahkan Ali Radhiyallahu ‘Anhu mengembalikan barang-barang tersebut kepada pemiliknya.[1]
            Hikmah dari pensyari’atan wadiah adalah untuk memudahkan kaum muslimin dan upaya dalam menggapai mashlahat. Mereka sangat butuh kepada saling tolong menolong dalam menjaga harta mereka.[2]

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan di atas maka rumusan masalah makalah ini yaitu,
1. Apa yang dimaksud dengan wadi’ah ?
2. Apa saja yang menjadi rukun wadi’ah dan syarat-syaratnya ?
3. Apa saja yang menjadi konsekuensi dari akad wadi’ah ?

C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah yang disebutkan di atas diharapkan penulisan makalah ini dapat menambah referensi mengenai wadi’ah dalam fiqih islam

D. Manfaat Penulisan
Dari pemaparan tujuan penulisan tersebut maka manfaat yang diharapkan dapat membuka cakrawala berpkir mengenai wadi’ah dalam fiqih islam.













BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pengertian Wadi’ah
1.      Pengertian Wadi’ah Menurut Bahasa
Akar kata dari Wadiah adalah wada’a yang artinya meninggalkan dan mengosongkan. [3] Sedangkan wadi’ah secara bahasa adalah sesuatu barang atau uang  yang dititipkan lain bukan pemilik barang tersebut.[4]
2.      Pengetian Wadi’ah Menrut Istilah
Penulis akan memaparkan pengertian wadi’ah secara istilah dalam empat madzhab.
-          Pengertian wadi’ah secara istilah menurut Hanafiyyah
نسليط الغير على حفظ ماله صريحا أو دلالة
Pemberian kekuasaan kepada orang lain untuk menjaga hartanya dengan ungkapan yang jelas atau dengan isyarat.[5]
-         Pengertian wadi’ah menurut Syafiyyah dan Malikiyah
توكيل حفظ مملوك أو محترم على وجه مخوص[6]
Pemberian kekuasaan untuk menjaga sesuatu yang dimiliki atau sesuatu yang muhtarom dengan metode tertentu.[7]
            Yang dimaksud dengan sesuatu yang dimiliki disini adalah sesuatu yang boleh dimiliki menurut syara’. Sedangkan yang dimaksud dengan sesuatu sesuatu yang muhtarom adalah sesuatu yang tidak boleh dimiliki menurut syari’at (bukan harta menurut syari’at) akan tetapi syari’at membolehkan untuk mengusainya secara pribadi, seperti anjing yang diajarkan untuk memburu. Makna dari muhtrom adalah sesuatu yang tidak diperintahkan untuk merusaknya.[8]
-          Pengertian wadi’ah menurut Hanabilah
توكيل حفظ مملوك أو محترم على وجه مخوص بلا عوض
Pemberian kekuasaan untuk menjaga sesuatu yang dimiliki atau sesuatu yang muhtarom dengan metode tertentu  tanpa imbalan.[9]

B.  Landasan Syari’ah Wadi’ah
Akad Wadi’ah dibolehkan Syati’at dan yang menjadi dasar hukum bolehnya wadi’ah adalah dari Al-Qur’an, As-Sunnah dan Ijma’.
1.      Landasan Dari Al-Qur’an.
Allah Ta’la berfirman:
۞إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُكُمۡ أَن تُؤَدُّواْ ٱلۡأَمَٰنَٰتِ إِلَىٰٓ أَهۡلِهَا وَإِذَا حَكَمۡتُم بَيۡنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحۡكُمُواْ بِٱلۡعَدۡلِۚ إِنَّ ٱللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦٓۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ سَمِيعَۢا بَصِيرٗا 
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.(QS. An-Nisa 58)
فَإِنۡ أَمِنَ بَعۡضُكُم بَعۡضٗا فَلۡيُؤَدِّ ٱلَّذِي ٱؤۡتُمِنَ أَمَٰنَتَهُۥ
jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (QS. Al-Baqarah: 283)
            Kata Amanat adalah lafazh yang umum mencakup segala sesuatu yang diperintahkan untuk menjganya baik berupa utang ataupun benda,  amanat berupa benda adalah wadi’ah. Perintah untuk mengembalikan amanat dan menjaga (benda ataupun uang) mangandung arti pensyari’atannya.[10]   
2.      Landasan Dari As-Sunnah
Diriwayatkan dari Abu Huroiroh Radiyallahu ‘Anhu bahwasannya Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:
أد الأمانة إلى من ائتمنك ولا تخن من خانك (رواه أبو داود[11] والترمذي[12])
3.      Landasan Dari Ijma’
Para sahabat dan ulama kaum muslimin pada setiap generasi sampai hari ini telah sepakat bahwa wadi’ah boleh dan disyari’atkan.[13]

C.  Hukum Meneriman Benda Titipan
Hukum menerima benda-benda titipan ada 4 macam yaitu :
1.      Sunah
Disunnahkan menerima titipan bagi orang yang percaya kepada dirinya bahwa dia sanggup menjaga benda-benda yang dititipkan kepadanya. Al-Wadi’ah adalah salah satu bentuk tolong menolongyang diperintahkan oleh Allah dalam Al-Qur’an, tolong menolong secara umum hukumnya sunnah. Hal ini dianggap sunnat menerima benda titipan ketika ada orang lain yang pantas pula untuk menerima titipan.
2.   Wajib
Diwajibkan menerima benda-benda titipan bagi seseorang yang percaya bahwa dirinya sanggup menerima dan menjaga benda-benda tersebut, sementara orang lain tidak ada seorangpun yang dapat dipercaya untuk memelihara benda-benda tersebut.
3.   Haram
Apabila seseorang tidak kuasa dan tidak sanggup memelihara benda-benda titipan. Bagi orang seperti ini diharamkan menerima benda-benda titipan sebab dengan menerima benda titipan berarti memberikan kesempatan (peluang) kepada kerusakan atau hilangnya benda-benda titipan sehingga akan menyulitkan pihak yang menitipkan.
4.     Makruh
Bagi orang yang percaya kepada dirinya sendiri bahwa dia mampu menjaga benda-benda titipan tetapi ia kurang yakin (ragu) pada kemampuannya, maka bagi orang seperti ini dimakruhkan menerima benda-benda titipan sebab dikhawatirkan dia akan berkhianat terhadap yang menitipkan dengan cara merusak benda-benda titipan atau menghilangkannya.[14]

D.             Rukun dan Syarat Wadi’ah

Rukun wadi’ah menurut mayoritas ulama ada empat yaitu:
  1. Al Mudi’ (orang yang menitipkan barang)
  2. Al Muda’ (orang yang dititipkan barang)
  3. Wadia’ah (barang yang dititipkan)
  4. Shighah (Ijab dan Qobul)[15]
1.                  Syarat Al Mudi’ dan Al Muda’
a.       Berakal
b.      Baligh
2.                  Syarat Shighoh
Yang dimaksud dengan shighoh adalah ijab qobul, yaitu dengan berkata Al Mudi’: saya titipkan baju ini kepadamu kemudian berkata Al Muda’: saya terima dan ini di sebut Shighoh yang jelas. Tidak disyaratkan untuk melakukan wadi’ah dengan shighoh yang jelas namun dibolehkan juga melakuakan akad wadia’ah dengan isyarat. Yaitu jika berkata orang yang menitip: saya titpkan buku ini kepadamu, dan orang yang dititipkan diam saja dan menerima buku tersebut maka sah-lah akad wadi’ah antara Al Mudi’ dan Al Muda’.
3.                  Syarat Wadi’ah
Barang yang dititipkan harus dimiliki dan muhtarom. Yang dimaksud dengan sesuatu yang dimiliki disini adalah sesuatu yang boleh dimiliki menurut syara’. Sedangkan yang dimaksud dengan sesuatu sesuatu yang muhtarom adalah sesuatu yang tidak boleh dimiliki menurut syari’at (bukan harta menurut syari’at) akan tetapi syari’at membolehkan untuk mengusainya secara pribadi, seperti anjing yang diajarkan untuk memburu. Makna dari muhtrom adalah sesuatu yang tidak diperintahkan untuk merusaknya.[16]

E.                 Konsekuesi Dari Akad Wadi’ah
1.      Al- Muda’ harus menjaga harta titipan dengan baik.
Para ulama berbeda pendapat tentang cara menjaga harta titipan:

Pendapat Pertama: Wajib atas orang yang dititipkan untuk menjaga harta titipan, sebagaimana ia menjaga hartanya sendiri ditempat yang aman. Penjagaan tersebuat dapat dilakukan oleh dirinya sendiri dan keluarganya. Pendapat ini adalah pendapat hanabilah.

Pendapat Kedua: adalah seperti pendapat pertama namun ditambahkan dengan penjagaan harta boleh dilakukan oleh orang biasa yang dipercaya untuk menjaga harta Al- Muda’ seperti pembantunya atau perkerjanya. Pendapat ini adalah pendapat Hanafiyyah.

Pendapat Ketiga: seperti pendapat pertama namun keluarga Al- Muda’ yang boleh dititipkan harta kepadanya adalah keluarga yang telah lama bersamanya. Bukan istri baru ataupun perkerja baru. Pendapat ini adalah pendapat Malikiyyah[17]

Pendapat Keempat: Wajib atas Al-Muda’ untuk menjaga harta Al- Mudi’ tidak boleh meminta dari istri  dan anaknya menjaga harta tersebut kecuali ada izin dan Al-Mudi’. Pendapat ini addalah pendapat Syafi’iyyah.[18]
2.      Akad Wadiah adalah akad Jaiz
Yang dimaksud dengan akad jaiz adalah dibolehkan bagi kedua belah pihak yang melakukan akad wadi’ah membatalkan akad kapan saja tanpa izin dari pihak lain. Maka dari itu dibolehakan bagi Al- Mudi’ untuk minta barangaya kapan saja. Begitu juga Al-Muda’ di bolehkan untuk mengembalikan barang titipan kapan saja.
3.      Sifat dari Yad Al-Muda’ adalah Yad Amanah.
Para ulama madzhab telah sepakat bahwa wadi’ah addalah sunnah, ketika Al-Muda’ menjaganya dengan baik maka baginya pahala, dan sifatnya adalah yad amanah.[19] Maksud dari Yad Al-Amanah adalah apabila barang titipan rusak maka Al- Muda’ tidak perlu menggantinya kecuali jika sebab kerusakan adalah karena kelalain dari Al-Muda’ atau Melanggar aturan amanat.[20]










BAB III

PENUTUP
A. Kesimpulan
Wadi’ah secara bahasa adalah sesuatu barang atau uang  yang dititipkan lain bukan pemilik barang tersebut. Sedangkan Wadi’ah menurut istilah adalah Pemberian kekuasaan untuk menjaga sesuatu yang dimiliki atau sesuatu yang muhtarom dengan metode tertentu.
Hukum menerima Wadi’ah dari Al Muda’ ada empat tergantung pada keadaan orang yang dititipi, bisa menjadi sunnah, wajid, makruh, ataupun haram.
Rukun Wadi’ah ada empat: Al Mudi’ (orang yang menitipkan barang), Al Muda’ (orang yang dititipkan barang), Wadia’ah (barang yang dititipkan),Shighah (Ijab dan Qobul).
Konsekuensi dari akad wadia’ah adalah:
1.      Al- Muda’ harus menjaga harta titipan dengan baik.
2.      Akad Wadiah adalah akad Jaiz
3.      Sifat dari Yad Al-Muda’ adalah Yad Amanah.


B. Saran
Setelah menguraikan tentang analisa wadi’ah dalam fiqih islam seyogyanya cendikiawan muslim terus bersemangat dalam menyampaikin dakwah ekonomi islam ini. Karena jalan dakwah adalah jalan para nabi dan rasul. Dengan jalan tersebut mereka sukses dunia dan akhirat. Semangat yang terealisasikan dengan penyampaian ceramah penulisan karya ilmiah dan lain-lain. Semoga Bermanfaat. Wallahu A’lam Bisshawab.


[1] Ahmad bin Husain bin Ali Al-Baihaqi, As-sunan Al-Kubro, (Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, 2003) jilid. 6 h. 472
[2] Muhammad Musthafa Al-Khon dan dan Muhammad Nusthafa Al-Bugho, Al-Fiqh Al-Manhaji, (Damaskus: Daarul Al-Qalam), h. 242 jilid. 3
[3] Ahmad Bin Faris, Mu'jam Maqayis Al-Lughoh ( Beirut: Dar- Al-Fikr, 1979), jilid. 6 h. 96
[4] Wahbah Zuhaili, Al Fiqh Al Islami Wa Adillatuhu, (Beirut: Dar- Al-Fikr, 1985) jilid. 5 h. 37
[5] Muhammad Amin Ibnu ‘Abidin, Rodd Al-Muhtar ‘Ala Ad-Dar Al-Mukhtar (Ar-Riyadh: Dar Alim Al-Kutub, 2000) jilid. 8 h.453
[6] Muhammad bin Muhammad Al-Khotib Asy-Sirbini, Mughni Al-Muhtaj, 2000, ( Beirut: Dar Al-Kutub Al-‘ilmiyah) jilid, 4 h. 125
[7] Muhammad Ad-Dusuqi, Hasyiyah Ad-Dusuqi ‘Ala Syarh Al Kabir, ( Dar Ihya Al-Kutub Al-Arabiyyah) jilid. 3 h. 419
[8] Muhammad Musthafa Al-Khon dan dan Muhammad Nusthafa Al-Bugho, Al-Fiqh                 Al-Manhaji, (Damaskus: Daarul Al-Qalam), jilid. 3 h. 241 jilid
[9] Manshur Bin Yunus, Kassyaf Al-Qina’ ‘An Matni Al-Iqna’, ( Beirut: Alam Al-Kutub, 1983), jilid. 4 h. 166
[10] Muhammad Musthafa Al-Khon dan dan Muhammad Nusthafa Al-Bugho, Al-Fiqh               Al-Manhaji, (Damaskus: Daarul Al-Qalam), jilid. 3 h. 242 jilid
[11] Muhammad Al-zuhaili, Al Mu’tamad Fi Al-Fiqh Asy-Syafi’i, (Damaskus: Dar Al-Qolam, cetakan ke dua 2011), h. 641, jilid 3
[12] Sulaiman Bin Al-'Asy, Sunan Abi Daud, (Beirut: Dar Ar-risalah Al-'Ilmiah, 2009) Kitab Al-buyu', Bab Seseorang mengambil haknya dari orang yang diatasnya(karena orang yang di atasnya tidak menunaikan kewajibannya), No. Hadist: 3535, h. 395, jilid. 5
[13] Muhammad Bin Isa At-Tirmidi, Sunan At-Tirmidi, (Dar Al-Gharb Al-Islami) jilid. 2 h. 543
[14] Sulaiman Rasyid, Fiqh Islam, (Jakarta: Atthahiriyah, 1976) hal. 315
[15] Wahbah Zuhaili, Al Fiqh Al Islami Wa Adillatuhu, (Beirut: Dar- Al-Fikr, 1985) jilid. 5 h. 39
[16] Muhammad Musthafa Al-Khon dan dan Muhammad Nusthafa Al-Bugho, Al-Fiqh               Al-Manhaji, (Damaskus: Daarul Al-Qalam), jilid. 3 h. 241 jilid
[17] Wahbah Zuhaili, Al Fiqh Al Islami Wa Adillatuhu, (Beirut: Dar- Al-Fikr, 1985) jilid. 5 h. 41-42

[18] Muhammad Musthafa Al-Khon dan dan Muhammad Nusthafa Al-Bugho, Al-Fiqh Al-Manhaji, (Damaskus: Daarul Al-Qalam), h. 246 jilid. 3

[19] Ibid, h. 247 jilid. 3
[20] Wahbah Zuhaili, Al Fiqh Al Islami Wa Adillatuhu, (Beirut: Dar- Al-Fikr, 1985) jilid. 5 h. 42



WADI’AH DALAM FIQIH ISLAM BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Agama islam adalah agama yang sempurna, karena islam dit...